Saturday, November 26, 2011

Hanoi: National Economic University



Kalau saat saya mengunjungi Foreign Trade University saya sudah melakukan appoinment sebelumnya, kunjugan ke National Economic University tanpa appoinment sama sekali. Untung-untungan saja. Bonek!

Saya memberikan alamat yang sudah saya dapatkan dari internet. Saya tulis juga nama Vietnamnya. Sopir taxi tidak tahu FTU maupun NEU, karena itu hanya nama Inggrisnya. Mereka memiliki nama Vietnamnya, dan itu yang lebih dikenal di masyarakat.

Sesampainya di alamat tersebut, saya mencoba mencari orang yang bisa berbahasa Inggris. Ada seorang mahasiswi yang membantu saya menemukan Office of International Affair. Kami berjalan cukup jauh karena universitas ini cukup luas. Lebih luas dari pada FTU. Harus menyeberang jalan besar segala.

Sesampainya di kantor tersebut saya ditemui oleh seorang staf. Dikatakan bahwa bosnya sedang meeting. Saya sampaikan maksud saya. Dia sangat baik. Mencoba mencari dimana bosnya meeting.

Beberapa saat saya menunggu, disuguhi air putih, dan dia kembali. Dia bilang bosnya akan datang menemui saya, dan akan menutup meetingnya sementara. Tidak beberapa saat seorang laki-laki muncul. Usianya dibawah saya. Bahasa Inggrisnya bagus. Nampak cerdas dan sopan. Seorang PhD. Nama panggilannya "Tung". Saya tadi saat ditemui staf, namanya juga "Tung". Ternyata terjadi hal yang sama. Disini ada "Big Tung" dan "Small Tung".

Pembicaraan cukup singkat namun to the point. Tentu saja detail pembicaraan tidak saya tulis di sini. Saya sudah tahu sebelumnya reputasi universitas ini. Memang salah satu universitas terbaik di Vietnam. Mana yang lebih baik? Foreign Trade University atau National Economic University? Tidak bisa dijawab karena masing-masing memiliki keunggulan. Seperti halnya antara UI dan UGM, dua-duanya universitas terbaik di Indonesia.

Tugas selesai. Dengan hasil yang melampaui target. Sekarang tinggal jalan-jalan!

AP

Hanoi: Foreign Trade University




Tujuan utama saya ke Vietnam adalah melakukan penjajakan kerjasama dengan universitas di Vietnam. Rekan saya yang in charge di kerjasama luar negeri telah melakukan kontak awal dengan Foreign Trade University, sehingga saya tinggal mem-follow up. Saya sudah melakukan komunikasi melalui sms dengan person in charge di universitas tersebut. Saya punya nama, nomor hp, dan alamat email, tetapi saya tidak tahu dia itu laki-laki atau perempuan.

Sesuai dengan perjanjian, saya akan ketemu dia pukul 9 pagi. Saya ke kampus universitas tersebut dengan menggunakan taxi. Biayanya sekitar 90.000 Dong atau sekitar Rp. 45.000,-- Cukup murah. Sesampainya di kampus FTU saya tidak memiliki kesulitas sama sekali untuk menemukan ruang meetingnya karena sudah diberitahu dengan jelas. Building A Lantai 9.

Untuk menuju lantai 9 saya harus antri masuk lift bersama student yang lain. Saat saya antri, ada seorang ibu-ibu yang nyelonong ke depan, dan diberi akses oleh pengantri yang lain. Ibu2 tersebut mungkin dosen. Kesimpulan sementara saya, kalau dosen bisa langsung ke depan pintu lift, tanpa harus antri. Kalau saya tentu saja tetap antri. Lift yang tersedia ada 4 lift, tetapi karena banyak yang akan naik maka kita tetap harus antri.

Tidak susah menemukan kantor urusan internasional (Office of International Affairs). Sampai disana saya ditemui seorang staf. Saya katakan bahwa saya sudah ada janji dengan seseorang yang kemudian saya sebut namanya. "Oh yes, she is in other room now. Just wait!" Ternyata dia seorang wanita!

" Hai...I'm Ha" kata dia
"I am Agung" begitu balas saya.

Kami pun terlibat dalam pembicaraan sesuai dengan penugasan yang saya emban. Hanya saya dan dia. Tidak ada staf lain yang ikut dalam pembicaraan ini. Ada 4 orang lain dalam kantor urusan internasional tersebut, tetapi mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Saya disuguhi setengah cangkir kopi? Setengah cangkir? Mungkin begitu budaya mereka.

Kunjungan ini diakhiri dengan campus tour. Cukup berjalan kaki. Kampus ini tidak begitu luas tetapi gedungnya tinggi-tinggi. Gedung A ini kalau tidak salah 12 lantai. Saya ditemani oleh seorang staf, wanita, namanya Ha juga. Yang ini sering disebut "Small Ha", yang bosnya sering disebut "Big Ha".

Dari pembicaraan yang ada saya mengetahui bahwa universitas ini memiliki reputasi yang sangat tinggi di Vietnam. Ha sering menyebutkan bahwa kita memberikan pelayanan pendidikan dengan kualitas yang tinggi! Dia nampak sangat percaya diri dengan universitasnya. Saya senang. Mestinya seorang pejabat harus begitu. Percaya diri!

Setelah saya tanya sana-sini, saya baru tahu bahwa FTU memang universitas terbaik di bidangnya di Vietnam. Di Vietnam universitasnya sudah fokus. Jadi ada universitas ekonomi, universitas teknikm dan seterusnya.

Walaupun ini universitas terbaik di Vietnam jangan dikira fasilitasnya seperti universitas terbaik di Indonesia. Saat saya minta mau presentasi dia mengatakan bahwa ruangan yang ada LCD projectornya sedang dipakai. Ya sudah, saya tidak menggunakan tayangan saat mengenalkan universitas saya. Saya lisan saja.

Saat saya sampai di ruang kuliah, saya cukup kaget. sangat sederhana. Seperti ruang kelas saya jaman SD dulu. Ada meja kayu, dan bangku kayu tanpa sandaran. Ini yang mereka sebut small class. Untuk kelas besar sudah ada fasilitas AC dan LCD Projector. Kursi dan mejanya juga sudah cukup modern.

Ada juga dormitori (asrama mahasiswa di dalam kampus). Ada Sport Hall, tetapi juga sangat sederhana. Ruang kegiatan mahasiswa juga sederhana. Tetapi jangan salah terka, di Eropa pun masih banyak universitas dengan fasilitas kelas sederhana seperti itu. Bukan mereka tidak mampu beli, tetapi sekedar meneruskan tradisi.

Di FTU ada beberapa gedung yang dibangun oleh pihak luar universitas seperti Jepang (JIK) dan Inggris. JIK membangun gedung di dalam universitas tersebut, dan juga lembaga bahasa dari UK juga memiliki gedung di situ. Nampaknya universitas tersebut memang universitas yang baik!

Saya kembali ke Hotel untuk melanjutkan kunjungan ke universitas lain. Sekedar untuk naroh jas dan komputer. Setelah ini saya akan mengunjungi universitas lain yang terkenal pula di Vietnam, yaitu National Economic University.


AP

Hanoi: BlackBerry Tetap Jalan

Saya kaget dengan BlackBerry saya. Tetap connected. Bahkan kecepatannya lebih kencang dari di Indonesia. Wah, sangat nyaman! Saya sempat menggunakan BB saya beberapa saat untuk say helo ke teman dan saudara, tetapi saya tiba-tiba ingat roaming! Wah iya, ini roaming. Pasti mahal.

Untung saja teman2 saya mengingatkan saya bahwa biaya roaming BB akan mahal sekali. Bisa jutaan! waduh!

Akhirnya saya disconnect BB saya. Saya sempat bingung caranya. Tetapi akhirnya ketemu juga caranya.

Untuk sekedar sharing (bagi yang belum tahu) cara memutus koneksi BB di luar negeri:
1. Pilih option (yang gambarnya kunci Inggris)
2. Pilih network and connection
3. Data services: pilih Off
4. While roaming: pilih off.

BB akan ter-diskoneksi.

Aman! Sudah terputus sementara. Sekarang tinggal deg-degan, berapa ya tagihannya nanti?

AP

Hanoi: Kamar Hotel

Saya mendapatkan kamar No. 710 di Asean Hanoi Hotel. Kamarnya bersih, namun ngepas (atau sempit kalau mau tegas). Tapi untuk tamu sendirian seperti saya sudah lebih dari cukup.

Setelah masuk kamar saya mengecek segala perlengkapan yang umumnya ada di hotel. Nah, ini dia, ternyata ada yang beda!

Sabun dan shampoo yang pada umumnya dalam kemasan kecil, di situ tersedia dalam kemasan besar yang bisa diisi ulang. Disediakan tidak hanya sabun dan shampoo, tetapi juga skin whitener dan skin care dengan vitamin E. Disediakan juga sisir besar (bukan yang bisa dibawa pulang) dan shaver (pencukur jenggot). Ada juga hair dryer. Handuk disediakan seperti pada umumnya, dua handuk besar, dua handuk kecil, dan satu handuk lantai.

Saya amati di dalam kamar sekarang. Di laci kanan kiri tempat tidur ada tulisannya "condom". Saya buka. Ternyata ada 3 condom di laci kiri, dan 3 condom di laci kanan. Saya tidak tahu apakah di hotel lain juga disediakan karena selama di Hanoi saya tidak berpindah hotel. Saya tidak tahu pula apakah kondom itu gratis atau harus membayar. Yang jelas saya tidak menyentuh dan tidak menggunakannya.

Saya lihat di dinding depan, dan ya ampun........ternyata hanya ada kipas angin! Saya sempat ragu apakah benar ini hotel bintang tiga. Namun saat saya ngecek remote control yang ada di kamar tersebut, ternyata ada 4 remote control. Oh....ternyata ada ACnya juga! diletakkan dipojok kanan atas, saya tadi hampir tidak melihatnya! Disediakan juga DVD player. Jadi 4 remote control yang ada adalah untuk AC, Fan, TV, dan DVD Player. Wah komplit juga!

Yang saya berkesan adalah tersedianya wifi gratis tanpa pasword. Kecepatannya luar biasa. Saya tetap get connected dengan internet. Bahkan sempat membayar tagihan listrik dan transfer uang bayar tagihan lainnya dengan ebanking. Tidak hanya itu, saya juga membeli tiket pulang dari KL ke Jakarta melalui internet pula, Wah...dunia semakin sempit!

AP

Thursday, November 24, 2011

Hanoi: Memilih Hotel di Hanoi

Kalau ke Hanoi, lebih baik memilih hotel diwilayah Old Quarter. Itu adalah area yang disenangi turis mancanegara kalau ke Hanoi. Dekat dengan berbagai fasilitas dan pusat pembelanjaan. Harga hotel bervariasi. Untuk hotel bintang tiga, antara USD.30 sd USD 50.

Saya sendiri memilih hotel saat masih di Indonesia. Karena pertanyaan saya tentang "recommended hotel" tidak juga dibalas oleh pihak partner di Vietnam, maka saya mencoba memilih hotel yang satu distrik dengan tempat tujuan. Saya membeli voucher melalui Agoda, penyedia online voucher dari Thailand. Saya memilih hotel bintang 3, dengan nama keren "Asean International Hotel". Hotel berlantai 15, dengan foto yang sangat menarik dan nampak megah.

Proses pembelian online selesai. Cepat dan mudah. Dalam hitungan menit bahkan detik, voucher hotel dikirim melalui email. Dalam voucher nama hotelnya berubah menjadi "Asean Hanoi Hotel". Ok, gak apa2, mungkin itu nama lama, atau nama baru.

Sesampainya di Hanoi, saya dengan diantar taxi sampailah ke hotel tersebut. Nama hotelnya ternyata berbeda lagi dengan yang di voucher. Namanya "Hotel A25". Mungkin ini nama aslinya, tetapi untuk menarik calon konsumen, mereka punya nama online, he...he...seperti abege saja.....

Lokasinya seperti di pasar glodok, Jakarta. Disekitar pertokoan (kios) kecil. Banyak penjual tradisional disekitar hotel. Tetapi hotelnya cukup bersih dan rapi. Benar 15 tingkat. Setiap tingkat hanya ada 12 kamar.

Memasuki kamar, ada yang menarik dinbandingkan dengan hotel-hotel lain yang pernah saya tuju. Tunggu tulisan saya berikutnya.

AP

Tuesday, November 22, 2011

Hanoi: Plat Nomor

Plat nomor mobil di Hanoi kebanyakan berwarna putih. Tetapi saya sempat melihat ada juga yang berwarna merah dan biru. Saya belum tahu apa bedanya. Tetapi yang berplat merah atau biru hanya ada satu dua. Hampir semua berplat putih. Saya lihat antara taxi dengan mobil pribadi sama-sama putih.

Sepeda motor juga berplat putih. hanya saja plat nomor hanya ada dibagian belakang sepeda motor. Bagian depannya tidak ada plat nomornya. Kalau mobil? Ada plat nomornya depan maupun belakang.

Hanoi: Sopir Jakarta Lewat.......?

Semrawut! Tidak teratur! Begitu kurang lebih lalu lintas di jalan raya di Hanoi. Banyak sekali sepeda motor. Mobil berbagai merek juga bersliweran di jalan. Mobil-mobil mewah juga sering kita temui. Audi, Lexus, BMW,Mercedes saya lihat berada ditengah-tengah padatnya jalan.

Saya lihat sepeda motor lari kencang dan hampir nabrak. Hampir saja, tetapi tidak nabrak. Saat saya di dalam taxi saya sering miris sendiri melihat jarak antara mobil dengan sepeda motor yang hanya beberapa centi saja.

Kalau tentang kertampilan sopir maupun pengendara sepeda motor di jalan raya, saya akui mereka jempolan. "Selalu hampir nabrak tetapi tidak pernah nabrak". Anehnya, mereka cool-cool saja, tidak saling melotot, seperti tanpa emosi.

Kalau jam pulang kantor? seperti sedang ada demo sepeda motor. Jalan raya padat dengan sepeda motor. Apa Hanoi layak disebut "Kota Sepeda Motor?" Saya yakin layak, tetapi mungkin ada yang mengalahkan, yaitu Ho Chi Min City, atau yang dulu disebut Saigon. Saya dengar disana lebih gila lagi. Tapi saya belum sempat kesana. Lain kali.