Saturday, December 15, 2012

KESAN PESAN PESERTA TRAINING 14 DESEMBER 2012



Materi Training: Nilai-nilai Kemenkeu, Sampai Dimana?

KESAN PESAN PESERTA:


Sangat puas setelah mendengarkan uraian/paparan yang telah Bp.Agung Pratapa sampaikan.
Agar waktunya diperpanjang lagi untuk sesi Tanya jawab.
Kesan: Materi yang disampaikan sudah bagus. Visi dan misi materi dapat diterima/dipahami. Cara penyampaian materi pun sudah bagus. Intinya sudah top markotop. Pesan: Untuk menghindari bosan bagi pendengar, alangkah baiknya peserta diajak melakukan aktivitas yang bisa menghilangkan rasa ngantuk.
Kesan: Materi yang disampaikan bagus dan sangat menyenangkan cara penyampaiannya. Pesan: untuk contoh dalam video untuk diperbanyak agar lebih mengena.
Kalau Bapak seorang muslim mungkin dapat ditambah kaidah2 agama dalam motivasi Bapak. Trims.
Sangat atraktif. Tuhan memberkati Anda sekeluarga. Jangan lupa ebook-nya ya pak.
Disela acara yang lumayan panjang, alangkah baik mungkin kalau diselingi dengan “olah fisik” yang menyegarkan melibatkan semua peserta.
Kesan: Memberi ide kepada saya bahwa belief sangat berarti untuk arah kita berjalan karena kelak saya percaya kelak setelah pension tidak disebut “pensiunan” tanpa doing anything. Pesan: ok banget. Jika ingin sharing kemana?
Training ini bagus, saya jadi sadar bahwa masih ada sisi positif dari diri saya. Tapi saya masih belum terlalu percaya pentingnya motivasi oleh motivator. Kurang lebihnya terimakasih pak.
Saya sangat puas dengan motivasi-motivasi yang disampaikan sehingga pengalaman saya yang pernah gagal, saya bisa kembali bersemangat. Terimakasih banyak.
Cara menyampaikan materi menarik, tidak membosankan dan tidak mengantuk. Terimakasih. Materi Anda menyenangkan, menarik, terimakasih. Tapi saya merasa sedikit mengantuk mengikutinya. Sebaiknya ada ice breaking saat penyampaian.
Terimakasih atas motivasinya. Semoga bisa bertemu lagi sama pak agung. Humornya dibanyakin. Game-game biar tidak bosan. Kesan: wow…segar membahara badai halilintar.
 Sangat bermanfaat untuk motivasi.
Sangat bermanfaat karena bisa menyegarkan kembali semangat atau motivasi yang sudah menurun. Ada kalanya motivasi seseorang sedang turun. Karena itu dibutuhkan training seperti ini untuk mengembalikan motivasi tersebut.
Masukan: agar disisipkan juga nilai-nilai spiritual dalam motivasi peserta. Ex: mau dibawa kemana arah tujuan kita. Dalam menyampaikan motivasi sudah baik. Sangat bermanfaat dan berbeda dengan metode-metode pemotivasian yang lain.
Training ini sangat bagus untuk menambah motivasi kerja saya dan refreshing dari kegiatan rutin.
Mohon ditambah guyonan sehingga peserta tidak bosan dengan materi.
Saya sangat terkesan dengan materi yang Bapak sampaikan. Ada baiknya jika lebih banyak interaksi dengan games yang lucu-lucu. Salam sukses pak.
Materi yang disampaikan sangat bagus, mengena keadaan sebenarnya yang terjadi di DJP. Kalau ada kesempatan mungkin Bapak mau memberikan/memberitahukan apa saja yang diinginkan wp.   
 Acara ICV ini sangat bagus dan memotivasi sehingga kita bisa semakin semangat untuk melaksanakan pekerjaan.
Materinya sangat menarik terutama yang berkaitan dengan belief dan passion. Mohon untuk video-video yang berisi motivasi ditambah.
Materi dan penyampaiannya menarik dan tidak membosankan. Saya jadi lebih bersemangat. Maju terus pak!!! 
Apa yang telah diutarakan dan disampaikan mudah saya cerna dan pahami. Semoga dapat saya jadikan sebagai acuan untuk masa yang akan datang. Untuk penyampaian mohon agar ditambah dengan game ice breaking yang melibatkan seluruh peserta. Untuk video motivasi agar ditambah lagi koleksinya.
Kurang heboh.
Acara menarik.
Terimakasih atas penyegaran yang telah diberikan. Sangat berguna untuk memupuk kepercayaan diri dalam melakukan tugas sehari-hari.
Untuk training lebih menyenangkan lagi kalau lebih banyak gamesnya.
Training ini cukup bermanfaat, menambah wawasan fikiran untuk menambah rasa percaya dan pasrah pada Tuhan.
Thanks Mr. Agung Praptapa atas motivasi untuk menjadi pegawai yang lebih sukses lagi. Dan thanks juga kiat-kiat untuk jadi entrepreneur sukses.


Thursday, December 13, 2012

Mr. AP & Sujiwo Tejo: Tentang Pemuda Indonesia







Minggu 2 Desember 2012 saya mendampingi budayawan kondang Indonesia "Sujiwo Tejo". SJ mengkritisi bagaimana pemuda Indonesia yang menelan mentah-mentah budaya asing.  "Orang Indonesia itu ya cengengesan......, gak perlu gaya teratur seperti bule" katanya. Tradisi cengengesan, mesem walau terganggu, duduk silo sambil wedangan merupakan metabolisme yang Indonesia banget. Nikmati, syukuri!

Thursday, October 11, 2012

Publikasi di Jurnal Reviu Akuntansi dan Keuangan Vol 2 No 2 Tahn 2012




ABSTRACT

This research is to examine the effect of management control system in water supply firm to the firm performance when some control interventions exist. The case is derived from water supply firm in Banyumas Regency. In this research the effect of result control, action control, personnel control, and cultural control to the firm performance is examined and control intervention is positioned as moderating variable. Data was obtained by using questionnaire sent to employees, from top management to the lowest level. This research uses regression analysis and Moderated Regression Analysis (MRA) to test hypothesis.
The result indicates that result control, personnel control and cultural control affect performance. Action control has no effect to performance. Control intervention moderates the relationship between management control system and performance, however, individually control intervention just moderate the effect of personnel control and cultural control to performance. Control intervention does not moderate the effect of result control and action control to performance.

Keywords: Management Control System, Result Control, Action Control, Personnel Control, Cultural Control, Intervention, Performance.


Praptapa, Agung dan Hijroh Rokhayati, 2012, "Intervensi Pengendalian dalam Sistem Pengendalian Manajemen dan kaitannya dengan Kinerja Perusahaan", Jurnal Reviu Akuntansi dan Keuangan, Vol.2 No. 2, page 275-286.



Thursday, September 20, 2012

Wednesday, September 19, 2012

Terjemahan Pidato Steve Jobs: Stay Hungry, Stay Foolish

Sebuah cerita lama sih, tapi masih pantas untuk di angkat kembali karena banyak hal-hal bijak yang bisa kita dapati dari sini. Pidato lama Steve Jobs(pendiri dan CEO Apple) dalam acara "commencement speech" di hadapan lulusan Stanford University tahun 2005..

Upps tunggu dulu buat yang menganggap kalo pidato CEO itu pasti membosankan yang ujung-ujungny adalah bisnis, asset and profit. Pastikan anda membacanya terlebih dahulu karena walaupun merupakan pidato di tahun 2005, akan tetap artikel tentang pidato ini sering dimunculkan kembali di tahun-tahun berikutnya.. (Bahkan sebagian besar orang sering mempertanyakan makna dari "Stay Hungry Stay Foolish" yang di sampaikan oleh Steve di akhir pidatonya..

Silahkan menyimak dan merenungkan pidato Steve Jobs berikut semoga dapat memberikan pencerahan (Diambil aja langsung text terjemahanya)

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab:“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya yang hanya pegawai rendah habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:

Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Sekali lagi, Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz (Steve Wozniak) dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Loh,, bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? tapi memang itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Bisa anda bayangkan kerja keras bertahun-tahun membangun kerajaan berakhir dengan anda berada di depan gerbangnya.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpuk batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.
Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Always Stay Hungry. Stay Foolish.

Sumber:
http://pondok-cerita.blogspot.com/2009/12/steve-jobs-stay-hungry-stay-foolish.html

Stay Hungry, Stay Foolish: Steve Jobs' famous speech

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?
1:08
It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: "We have an unexpected baby boy; do you want him?" They said: "Of course." My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents' savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn't see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn't interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn't all romantic. I didn't have a dorm room, so I slept on the floor in friends' rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn't have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can't capture, and I found it fascinating.

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it's likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Again, you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something - your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

My second story is about love and loss.

I was lucky - I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents' garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation - the Macintosh - a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.

I really didn't know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me - I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.

I didn't see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the world's first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple's current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.

I'm pretty sure none of this would have happened if I hadn't been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking. Don't settle. As with all matters of the heart, you'll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don't settle.

My third story is about death.

When I was 17, I read a quote that went something like: "If you live each day as if it was your last, someday you'll most certainly be right." It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: "If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?" And whenever the answer has been "No" for too many days in a row, I know I need to change something.

Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything - all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn't even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor's code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you'd have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I'm fine now.

This was the closest I've been to facing death, and I hope it's the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life's change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960's, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: "Stay Hungry. Stay Foolish." It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.

Stay Hungry. Stay Foolish.

Thank you all very much.

Source:

http://www.ndtv.com/article/technology/stay-hungry-stay-foolish-steve-jobs-famous-speech-139029

Ingin melihar video dan perlu terjemahannya dalam bahasa Indonesia? Silakan klik http://edy4life.com/78/jangan-pernah-puas-tetaplah-merasa-bodoh.html

Tuesday, June 26, 2012

Tips Menjaga Produktivitas


Menjaga Produktivitas
Master Agung Praptapa
               
                Sering hari berlalu begitu saja. Perjalanan waktu dari pagi sampai petang terasa cepat sekali.  Sayangnya, kita sering melalui hari-hari yang cepat tersebut tanpa hasil yang berarti. Memang terkadang kita sadar bahwa hidup rasanya tidak berarti kalau dari hari ke hari berikutnya kita lalui tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.  Kita sering sadar akan produktivitas diri.  Namun kita sering mengabaikannya.  Bahkan lebih sering mengabaikan peroduktitas diri dari pada sadarnya.  Bagaimana menjaga agar kita tetap produktif?
(1) Selalu ingat bahwa waktu itu terbatas
                Kita sering berpikir dan bertindak sangat santai seolah-olah waktu tidak akan berlalu.  Masih ada hari esok. Masih ada nanti.  Kita sering lupakan bahwa dalam satu hari kita hanya diberi jatah waktu 24 jam, satu minggu hanya 7 hari dan seterusnya. Sayangnya, kita sering mengabaikan keterbatasan waktu ini, sehingga kita tiba-tiba sadar bahwa kita belum sempat berbuat apa-apa padahal waktu sudah malam dan akan berganti hari berikutnya.

(2) Sadari bahwa waktu berjalan dengan kecepatan konstan dan tidak ada berhentinya
                Masih dengan waktu, kalaupun kita ingat bahwa waktu kita terbatas, kita masih sering lupakan bahwa waktu itu berjalan begitu cepat.  Tanpa istirahat. Tanpa berhenti.  Terus berjalan apapun yang terjadi.  Sedangkan kita?  Kita sering harus menghentikan pekerjaan karena suatu gangguan.  Ada tamu datang, ada telepon, kepala pusing, agak flu, dan berbagai alasan lain yang mengharuskan kita berhenti sejenak dari aktivitas kita.  Padahal waktu dengan “cool”nya tetap berjalan dengan kecepatan konstan tidak peduli apapun yang terjadi.   Jadi kita memang harus berpacu dengan waktu.  Waktu terus berjalan maka kita juga harus terus bergerak. 

(3) Ingatlah bahwa kita tidak selalu bisa begini
                Pada saat sehat, kita bisa berbuat apa saja. Tapi bagaimana saat kita sakit?  Pada saat kita kaya kita bisa membeli apa saja. Tapi bagaimana kalau kita sedang tidak punya uang?  Pada saat tidak ada gangguan kita bisa tenang bekerja. Tetapi bagaimana saat banyak gangguan disekitar kita? Anak menangis, isteri minta diantar belanja, rumah tetangga kebakaran? Ini semua akan membuat kita dipaksa meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang diluar rencana kita.  Ini manusiawai, tetapi kita harus bisa memanaj sebaik-baiknya.  Intuk itulah maka selagi bisa jangan ditunda.

(4) Selalu waspada akan perubahan
                Sering apa yang sudah kita rencanakan sebaik-baiknya meleset tidak bisa kita kerjakan karena adanya perubahan dari pihak lain.  Tiba-tiba pesawat ditunda, tiba-tiba ada perubahan peraturan, tiba-tiba kurs mata ang berubah tajam sehingga rencana kita tidak bisa berjalan dengan mulus.  Untukitulah maka kita harus selalu waspada terhadap kemungkinan adanya perubahan.  Untuk itulah selalu lakukan seseuatu pada kesempatan pertama karena apa yang terjadi esok hari masih belum pasti.

(5) Sadari bahwa energi kita terbatas
                Kita tidak selalu memiliki energi yang sama dari waktu ke waktu.  Pagi hari mungkin kita lebih segar sehingga kita bisa bekerja dengan lebih cepat.  Namun bisa saja pada malam hari kita sudah mengantuk dan energi kita tidak seprima pagi hari. Pada saat stamina sudah mulai menurun tentunya produktivitas menjadi terganggu.  Untuk itulah maka selalu save energy. Hemat energy. Saat energi masih prima jangan gunakan untuk memikirkan atau melakukan hal-hal yang kurang atau tidak berguna.

(6) Ciptakan sense of urgency
                Kita akan tergerak untuk melakukan sesuatu yang mendesak.  Saat rumah kita terbakar pasti kita akan segera tergerak untuk memadamkan api.  Saat gempa datang kita pasti akan menyegerakan diri untuk berlindung.  Jadi apa yang sangat mendesak secara otomatisakan menggerakkan kita untuk mendahulukannya.  Bagaimana apanila tidak ada yang mendesak? Nah ini problemnya.  Saat kita merasa tidak ada yang mendesak kita sering terpancing untuk tidak melakukan apa-apa. Untuk itulah kita harus mampu menciptakan “perasaan mendesak” atau “sense of urgency”.  Sayangnya,  yang sering terjadi malah sebaliknya, banyak hal penting yang kita abaikan sehingga menjadi tidak penting. Ini akan membahayakan diri kita sendiri saat kita dihadapkan kenyataan bahwa hal tersebut benar-benar penting dan mendesak.
                Ingin selalu produktif? Selalu ingat bahwa waktu itu terbatas, sadari bahwa waktu berjalan dengan kecepatan konstan dan tidak ada berhentinya, ingatlah bahwa kita tidak selalu bisa begini,  selalu waspada akan perubahan, sadari bahwa energi kita terbatas, dan ciptakan sense of urgency.

26 Jun 2012.

Tuesday, May 8, 2012

Bagaimana ke UUM dari Airport Penang?

Beberapa teman menanyakan bagaimana caranya ke UUM (University Utara Malaysia) dari Pulau Pinang dengan menggunakan public transport.  Semoga tulisan ini membantu.

Keluar dari Arrival Hall, kita berjalan kaki sekitar 30 meter ke Tempat Pemberhentia Bus (Bus Stop). Gunakan Bus dengan Kode 401 E untuk menuju ke Jeti (Pelabuhan Ferry). Tarifnya RM. 2.70. Bayar langsung ke sopir saat menaiki bus.  Dari airport ke Jeti memakan waktu sekitar 1 jam.  Jeti merupakan pemberhentian terakhir dari bus nomor 401 E tersebut. Di Jeti kita berhenti di Terminal Jeti.

Kita tinggal berjalan kali menuju pelabuhan Jeti. Kita akan melalui warung-warung dan lorong menuju ke ruang tunggu di pelabuhan Ferry.  Kita tidak perlu membayar untuk Ferry menuju Butterworth (nama kota setelah kita turun dari Ferry).  Tetapi kalau dari Butterworth ke Jeti kita harus membayar (saya lupa berapa tarifnya, tetapi murah kok....).

Turrun dari Ferry kita berjalan kaki dan langsung akan menemui Bus Station. Di stasiun bus tersebut terdapat banyak kounter tiket.  Tanya saja mana bus yang paling awal berangkat menuju Alor Setar.  Bus dari Butterworth ke Alor Setar tersedia setiap 30 menit. Tarifnya RM.9,80.

Perjalanan ke Alor Setar memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sesampainya di Bandar Perdana (nama stasiun bus Alor Setar) kita menuju kounter Bus Mara Liner, karena hanya bus inilah yang memiliki rute Alor Setar ke UUM. Tersedia setiap 1 jam. Tarif dari Alor Setar ke UUM adalah RM. 5.40. Rutenya adalah Alor Setar - Jitra - Cangloon - UUM (Sintok). Karena bus ini sering berhenti mengambil dan menurunkan penumpang, dari Alor Setar ke UUM memakan waktu sekitar 2 jam.

Di Kampus UUM bus akan berhenti disetiap Halte, untuk menurunkan dan mengambil penumpang.  Sampaikan kepada kondektur kita akan menuju kemana di kampus tersebut sehingga kondektor akan membantu kita berhenti di halte terdekat.

Semoga berguna.

AP

AirAsia - Terminal 3 Airport Cengkareng Jakarta

Fasilitas web check in yang disediakan oleh AirAsia memberikan kemudahan dan waktu yang lebih singkat dalam proses kita melakukan penerbangan. Setelah membeli tiket melalui online booking, kita bisa langsung check in, melalui internet, atau yang disebut sebagai web check in. Setelah kita melakukan web check in, kita langsung mendapatkan Boarding Pass, termasuk nomor tempat duduk kita nanti.  Boarding Pass akan dikirim melalui email langsung saat itu juga dan bisa langsung kita print. Sangat praktis, kita tidak perlu antri melakukan check in di airport yang apabila antrian panjang bisa memakan waktu antara 15 sampai30 menit. Jadi kita datang ke airport sudah membawa Boarding Pass.

Terminal untuk AirAsia di Airport Cengkareng Jakarta adalah di Terminal 3, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional. Seperti biasa, saat masuk ke kounter check in tiket akan diperiksa dan  barang bawaan kita harus di scan.  Setelah barang discan, apabila kita sudah memiliki Boarding Pass dari web check in, kita tidak perlu antri di kounter check in.  Tinggal belok kanan, nanti ada petugas "Document Check".  Kita tinggal menemui petugas tersebut, tiket dan pasport diperiksa, kemudian kita membayar airport tax Rp.150.000,-- per orang untuk penerbangan internasional. Bagaimana kalau kita sudah terlanjur antri di check in counter padahal kita sudah memiliki Boarding Pass? Tidak apa2. Sama saja, kita hanya diperiksa passport dan tiket serta membayar airport tax.

Oleh petugas "Check Document" kita akan diberi informasi untuk menunggu di Zone berapa di ruang tunggu nanti.  Jadi di terminal 3 tidak ada istilah Gate seperti di Terminal 1 atau 2, tetapi Zone (Zona Tunggu). Terdapat 6 Zona Tunggu. Pada dasarnya Zona Tunggu adalah area tempat duduk yang terdekat dengan pintu dimana kita akan lalui saat boarding nanti.  Zone 1 sd 6 ada didalam ruang tunggu yang sama.

Ok. Kita kembali ke proses setelah kita mendapatkan info tentang Zone dari petugas check in. Kita menuju ke pintu ruang pemberangkatan dan imigrasi.  Setelah masuk ke ruang tersebut kita langsung naik ke lantai 2 dengan menggunakan eskalator.  Begitu sampai di lantai 2 kita akan temui 2 loket imigrasi, yaitu untuk Foreign Passport dan Indonesian Passport.  Tentunya hanya yang akan melakukan penerbangan internasional yang harus melalui loket imigrasi.  Untuk yang melakukan penerbangan domestik sudah disediakan jalur tersendiri disebelah kanan.

Setelah passport di cap di loket imigrasi, kita tinggal menuju ruang tunggu. Namun sebelumnya barang bawaan akan di scan kembali.  Setelah masuk di ruang tunggu, ambillah tempat duduk sesuai dengan Zone yang telah ditentukan. Pada saat waktu boarding, akan ada pengumumuman.  Di pintu keluar tiket akan diperiksa.  Ada bagian tiket yang diambil (disobek) petugas dan bagian lainnya dikembalikan kepada kita.

Dari pintu keluar ke pesawat kita tidak menggunakan "belalai" seperti penerbangan pada umumnya, tetapi kita berjalan kaki atau naik bus yang telah disediakan untuk menuju ke pesawat kita.  Untuk itulah kita perlu memastikan dimana letak pesawat kita.

Walaupun tulisan yang sepele, tetapi semoga berguna.

Have a nice flight.

AP