Apa yang mengganggu pikiran kita pada hari ini? Biasanya adalah hal-hal kecil. Tukang parkir yang bekerja seenaknya, pembantu yang bekerja lamban, anak buah yang tidak bersahabat, atasan yang tidak ramah dalam memberikan perintah, dan banyak hal-hal kecil lain yang kita pikir terus menerus sehingga menggunakan "memory pikiran" yang besar. Ibarat sebuah komputer, kapasitas memori komputer kita dipenuhi oleh file-file yang tidak berguna, yang semakin lama menghabiskan kapasitas memori, sehingga file-file penting tidak lagi bisa kita simpan. Ini sering terjadi pada hampir semua orang. Menyimpan file perusak didalam memorynya. Ciri-ciri file perusak adalah berkembang biak seperti virus, jadi kalau masih kita biarkan tersimpan di dalam pikiran kita semakin lama semakin berkembang dan pikiran kita akan dipenuhi dengan hal-hal kecil yang tidak berguna.
Namun diantara orang-orang yang ada di dunia ini, terdapat tidak banyak orang yang lebih sibuk berpikir besar dari pada berpikir kecil. Orang yang jumlahnya relatif sedikit inilah yang biasanya menjadi orang sukses. Orang sukses disibukkan dengan berpikir besar, sedangkan orang gagal atau orang yang biasa-biasa saja disibukkan dengan berpikir kerdil. Berpikir besar adalah berpikir sukses, berpikir berguna, berpikir mendapatkan apa yang kita mau, berpikir tentang sistem yang lebih baik, berpikir tentang masa depan yang gemilang, berpikir tentang mangatasi tantangan dan rintangan. Sedangkan berpikir kerdil adalah berpikir tentang tidak bisa, tidak mungkin, ini sulit, dia jelek, mereka ngawur, dan berpikir tentang hal-hal kecil yang tidak berguna. Seperti halnya berpikir kecil atau berpikir kerdil yang akan memakan memori pikiran kita, berpikir besar juga demikian. Saat kita berpikir besar juga akan tersimpan file-file pikiran besar di dalam memori kita. File pikiran besar ini juga seperti virus, terus beranak pinak sehingga memerlukan memori dalam jumlah besar. Bedanya dengan file pikiran kerdil adalah apabila pikiran kerdil dapat mengecilkan kapasitas pikiran kita, pikiran besar justru memperbesar kapasitas pikiran kita. Semakin sering kita berpikiran besar semakin besar pula kemungkinan meningkatnya kapasitas pikiran kita.
Berpikir besar menghasilkan optimisme, sedangkan berpikir kerdil menghasilkan kegelisahan. Orang yang berpikir kerdil akan terganggu dengan hal-hal kecil yang sesungguhnya tidak akan berakibat apa-apa apabila diabaikan. Orang berpikiran besar sibuk dengan misi besarnya, sehingga meskipun ada hal-hal kecil yang berpotensi untuk mengganggu, mereka lebih disibukkan dengan pikiran besar mereka, sehingga tidak ada waktu untuk berpikir kerdil. Pikiran besar menghasilkan kegairahan. Orang yang berpikir besar akan terangsang untuk berpikir lebih besar lagi. Mereka memang pemimpi, tetapi mereka juga seorang "pengusaha" dalam arti seorang yang terus berusaha mewujudkan impiannya menjadi kenyataan.
Saat Anda terganggu dengan pikiran-pikiran kerdil, sampaikan saja pada diri sendiri bahwa "Maaf, saya sedang sibuk berpikir besar".
Sukses untuk kita semua.
Mr. AP.
Showing posts with label Zona Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Zona Motivasi. Show all posts
Thursday, January 3, 2013
Resolusi di Tahun Baru
Tahun baru datang lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak orang di dunia ini yang mengidentikkan tahun baru dengan resolusi baru. Ada ketetapan hati pada banyak orang, janji, komitmen, keinginan, dan harapan yang dinyatakan pada tahun baru. Menjadikan tahun baru sebagai hari membuat resolusi sudah ada sejak jaman Babilonia sekitar 4000 tahun yang lalu, dan tetap menjadi budaya global saat ini.
Membuat statement tentang apa yang diharapkan bisa didapatkan pada suatu tahun tertentu bagaimanapun juga merupakan hal yang positif. Ini merupakan target yang dinyatakan. Target yang dinyatakan dengan jelas akan memberikan dampak keberhasilan yang lebih tinggi pula. Semakin jelas apa yang kita mau, semakin jelas juga cara mencapainya, dan semakin jelas pula kita bisa tahu apakah apa yang kita inginkan tersebut sudah tercapai atau belum.
Sayangnya banyak juga resolusi yang ditetapkan pada tahun baru tertentu, yang tidak disertai dengan action, sehingga resolusi tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya, resolusi tersebut diulang lagi untuk menjadi resolusi tahun baru berikutnya. Dan ini tidak cukup satu tahun dua tahun, bisa saja terus berulang pada tahun-tahun berikutnya. Banyak orang yang menetapkan untuk "berhenti merokok"mulai pada tahun baru tertentu. Satu minggu pertama berhasil, satu minggu berikutnya tetap berhasil tidak merokok walaupun sudah mulai tergoda, minggu ketiga mulai gelisah untuk merokok lagi, dan minggu ke empat bobollah pertahanan diri. Akhirnya? Merokok lagi. Ini berulang-ulang terjadi tiap tahunnya. Kalau demikian apakah resolusi tahun baru menjadi percuma? Tidak!
Meskipun tidak ada jaminan berhasil dari resolusi tahun baru, tapi menetapkan suatu resolusi sudah merupakan hal positif yang perlu dihargai. Minimal hal tersebut sudah menunjukkan ada keinginan untuk menjadi lebih baik di tahun berikutnya. Namun perlu diingat, resolusi yang tidak juga tercapai apabila berjalan bertahun-tahun bisa membuat seseorang jera, atau bahkan frustasi dengan resolusinya sendiri. Untuk itulah kita perlu ber-resolusi secara cerdas. Bagaimana resolusi yang cerdas?
Pertama, buatlah resolusi yang menantang tetapi yang kita yakini bisa tercapai. Dalam bahasa textbook sering disebut dengan "challenging but achievable". Resolusi untuk menjadi milyarder pada tahun depan sangat menantang, tetapi apabila posisi kita saat ini hanya berpenghasilan dibawah satu juta rupiah per bulan tentunya akan sulit untuk tercapai. Ini "challenging but not achievable". Resolusi untuk mandi dua kali sehari akan sangat mungkin tercapai karena ini sudah merupakan kebiasaan kita, tetapi kalau ini sudah menjadi kebiasaan kita lalu apa tantangannya? Ini adalah contoh yang "Achievable but not challenging". Penghasilan kita sekarang Rp. 2 juta perbulan dan kita berjanji akan menabung setiap bulannya Rp. 500.000,-- . Nah ini cukup menantang karena kita harus disiplin menyisihkan 25% dari pendapatan kita untuk ditabung, dan ini tingkat kemungkinan berhasilnya juga masih ada karena kita masih bisa hidup dengan 75% dari penghasilan kita misalnya.
Kedua, kaitkan resolusi dengan keyakinan agama. Resolusi adalah janji dan agama apapun selalu menganjurkan kalau janji harus ditepati. Tidak menepati janji adalah dosa. Nah, kalau sudah bicara tentang dosa, kita akan menjadi berhati-hati. Jangan sampai kita membuat janji palsu atau janji kosong. Kalau demikian apakah lebih baik kita tidak berjanji? Oh...nanti dulu. Resolusi adalah janji kita untuk menjadi lebih baik, sedangkan berusaha untuk menjadi lebih baik juga merupakan ibadah. Jadi, tetaplah jangan ragu untuk membuat resolusi, selama resolusi kita adalah resolusi positif. Mari kita jadikan ini sebagai bagian dari ibadah kita.
Ketiga, satukan keyakinan dan tindakan. Resolusi yang kita buat akan menjadi percuma apabila kita tidak yakin bahwa kita bisa mencapainya. Itu hanya mimpi namanya. Namun apabila kita sangat yakin bahwa kita akan bisa mencapai apa harapan kita, namun kemudian tidak didukung dengan tindakan nyata, bisakah? Tentunya tidak. Resolusi menabung 25% dari pendapatan hanya mungkin tercapai apabila kita benar-benar bertindak, yaitu memasukkan 25% dari pendapatan kita untuk ditabung, dan kita harus disiplin dengan tindakan kita. Jadi, keyakinan dan tindakan (belief and action) harus menjadi satu kesatuan.
Apa resolusi Anda ditahun baru ini? Semoga tercapai! Yakinlah tercapai!
Mr. AP
Membuat statement tentang apa yang diharapkan bisa didapatkan pada suatu tahun tertentu bagaimanapun juga merupakan hal yang positif. Ini merupakan target yang dinyatakan. Target yang dinyatakan dengan jelas akan memberikan dampak keberhasilan yang lebih tinggi pula. Semakin jelas apa yang kita mau, semakin jelas juga cara mencapainya, dan semakin jelas pula kita bisa tahu apakah apa yang kita inginkan tersebut sudah tercapai atau belum.
Sayangnya banyak juga resolusi yang ditetapkan pada tahun baru tertentu, yang tidak disertai dengan action, sehingga resolusi tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya, resolusi tersebut diulang lagi untuk menjadi resolusi tahun baru berikutnya. Dan ini tidak cukup satu tahun dua tahun, bisa saja terus berulang pada tahun-tahun berikutnya. Banyak orang yang menetapkan untuk "berhenti merokok"mulai pada tahun baru tertentu. Satu minggu pertama berhasil, satu minggu berikutnya tetap berhasil tidak merokok walaupun sudah mulai tergoda, minggu ketiga mulai gelisah untuk merokok lagi, dan minggu ke empat bobollah pertahanan diri. Akhirnya? Merokok lagi. Ini berulang-ulang terjadi tiap tahunnya. Kalau demikian apakah resolusi tahun baru menjadi percuma? Tidak!
Meskipun tidak ada jaminan berhasil dari resolusi tahun baru, tapi menetapkan suatu resolusi sudah merupakan hal positif yang perlu dihargai. Minimal hal tersebut sudah menunjukkan ada keinginan untuk menjadi lebih baik di tahun berikutnya. Namun perlu diingat, resolusi yang tidak juga tercapai apabila berjalan bertahun-tahun bisa membuat seseorang jera, atau bahkan frustasi dengan resolusinya sendiri. Untuk itulah kita perlu ber-resolusi secara cerdas. Bagaimana resolusi yang cerdas?
Pertama, buatlah resolusi yang menantang tetapi yang kita yakini bisa tercapai. Dalam bahasa textbook sering disebut dengan "challenging but achievable". Resolusi untuk menjadi milyarder pada tahun depan sangat menantang, tetapi apabila posisi kita saat ini hanya berpenghasilan dibawah satu juta rupiah per bulan tentunya akan sulit untuk tercapai. Ini "challenging but not achievable". Resolusi untuk mandi dua kali sehari akan sangat mungkin tercapai karena ini sudah merupakan kebiasaan kita, tetapi kalau ini sudah menjadi kebiasaan kita lalu apa tantangannya? Ini adalah contoh yang "Achievable but not challenging". Penghasilan kita sekarang Rp. 2 juta perbulan dan kita berjanji akan menabung setiap bulannya Rp. 500.000,-- . Nah ini cukup menantang karena kita harus disiplin menyisihkan 25% dari pendapatan kita untuk ditabung, dan ini tingkat kemungkinan berhasilnya juga masih ada karena kita masih bisa hidup dengan 75% dari penghasilan kita misalnya.
Kedua, kaitkan resolusi dengan keyakinan agama. Resolusi adalah janji dan agama apapun selalu menganjurkan kalau janji harus ditepati. Tidak menepati janji adalah dosa. Nah, kalau sudah bicara tentang dosa, kita akan menjadi berhati-hati. Jangan sampai kita membuat janji palsu atau janji kosong. Kalau demikian apakah lebih baik kita tidak berjanji? Oh...nanti dulu. Resolusi adalah janji kita untuk menjadi lebih baik, sedangkan berusaha untuk menjadi lebih baik juga merupakan ibadah. Jadi, tetaplah jangan ragu untuk membuat resolusi, selama resolusi kita adalah resolusi positif. Mari kita jadikan ini sebagai bagian dari ibadah kita.
Ketiga, satukan keyakinan dan tindakan. Resolusi yang kita buat akan menjadi percuma apabila kita tidak yakin bahwa kita bisa mencapainya. Itu hanya mimpi namanya. Namun apabila kita sangat yakin bahwa kita akan bisa mencapai apa harapan kita, namun kemudian tidak didukung dengan tindakan nyata, bisakah? Tentunya tidak. Resolusi menabung 25% dari pendapatan hanya mungkin tercapai apabila kita benar-benar bertindak, yaitu memasukkan 25% dari pendapatan kita untuk ditabung, dan kita harus disiplin dengan tindakan kita. Jadi, keyakinan dan tindakan (belief and action) harus menjadi satu kesatuan.
Apa resolusi Anda ditahun baru ini? Semoga tercapai! Yakinlah tercapai!
Mr. AP
Tuesday, June 26, 2012
Tips Menjaga Produktivitas
Menjaga Produktivitas
Master Agung Praptapa
Sering
hari berlalu begitu saja. Perjalanan waktu dari pagi sampai petang terasa cepat
sekali. Sayangnya, kita sering melalui
hari-hari yang cepat tersebut tanpa hasil yang berarti. Memang terkadang kita
sadar bahwa hidup rasanya tidak berarti kalau dari hari ke hari berikutnya kita
lalui tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.
Kita sering sadar akan produktivitas diri. Namun kita sering mengabaikannya. Bahkan lebih sering mengabaikan peroduktitas
diri dari pada sadarnya. Bagaimana
menjaga agar kita tetap produktif?
(1) Selalu ingat bahwa
waktu itu terbatas
Kita
sering berpikir dan bertindak sangat santai seolah-olah waktu tidak akan
berlalu. Masih ada hari esok. Masih ada
nanti. Kita sering lupakan bahwa dalam
satu hari kita hanya diberi jatah waktu 24 jam, satu minggu hanya 7 hari dan
seterusnya. Sayangnya, kita sering mengabaikan keterbatasan waktu ini, sehingga
kita tiba-tiba sadar bahwa kita belum sempat berbuat apa-apa padahal waktu
sudah malam dan akan berganti hari berikutnya.
(2) Sadari bahwa waktu berjalan dengan kecepatan konstan dan tidak ada berhentinya
Masih
dengan waktu, kalaupun kita ingat bahwa waktu kita terbatas, kita masih sering
lupakan bahwa waktu itu berjalan begitu cepat.
Tanpa istirahat. Tanpa berhenti.
Terus berjalan apapun yang terjadi.
Sedangkan kita? Kita sering harus
menghentikan pekerjaan karena suatu gangguan.
Ada tamu datang, ada telepon, kepala pusing, agak flu, dan berbagai
alasan lain yang mengharuskan kita berhenti sejenak dari aktivitas kita. Padahal waktu dengan “cool”nya tetap berjalan
dengan kecepatan konstan tidak peduli apapun yang terjadi. Jadi kita memang harus berpacu dengan
waktu. Waktu terus berjalan maka kita
juga harus terus bergerak.
(3) Ingatlah bahwa kita tidak selalu bisa begini
Pada saat
sehat, kita bisa berbuat apa saja. Tapi bagaimana saat kita sakit? Pada saat kita kaya kita bisa membeli apa
saja. Tapi bagaimana kalau kita sedang tidak punya uang? Pada saat tidak ada gangguan kita bisa tenang
bekerja. Tetapi bagaimana saat banyak gangguan disekitar kita? Anak menangis,
isteri minta diantar belanja, rumah tetangga kebakaran? Ini semua akan membuat
kita dipaksa meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang diluar rencana
kita. Ini manusiawai, tetapi kita harus
bisa memanaj sebaik-baiknya. Intuk itulah
maka selagi bisa jangan ditunda.
(4) Selalu waspada akan perubahan
Sering
apa yang sudah kita rencanakan sebaik-baiknya meleset tidak bisa kita kerjakan
karena adanya perubahan dari pihak lain.
Tiba-tiba pesawat ditunda, tiba-tiba ada perubahan peraturan, tiba-tiba
kurs mata ang berubah tajam sehingga rencana kita tidak bisa berjalan dengan
mulus. Untukitulah maka kita harus
selalu waspada terhadap kemungkinan adanya perubahan. Untuk itulah selalu lakukan seseuatu pada
kesempatan pertama karena apa yang terjadi esok hari masih belum pasti.
(5) Sadari bahwa energi kita terbatas
Kita
tidak selalu memiliki energi yang sama dari waktu ke waktu. Pagi hari mungkin kita lebih segar sehingga
kita bisa bekerja dengan lebih cepat. Namun
bisa saja pada malam hari kita sudah mengantuk dan energi kita tidak seprima
pagi hari. Pada saat stamina sudah mulai menurun tentunya produktivitas menjadi
terganggu. Untuk itulah maka selalu save energy. Hemat energy. Saat energi masih
prima jangan gunakan untuk memikirkan atau melakukan hal-hal yang kurang atau
tidak berguna.
(6) Ciptakan sense of urgency
Kita
akan tergerak untuk melakukan sesuatu yang mendesak. Saat rumah kita terbakar pasti kita akan segera
tergerak untuk memadamkan api. Saat
gempa datang kita pasti akan menyegerakan diri untuk berlindung. Jadi apa yang sangat mendesak secara
otomatisakan menggerakkan kita untuk mendahulukannya. Bagaimana apanila tidak ada yang mendesak?
Nah ini problemnya. Saat kita merasa
tidak ada yang mendesak kita sering terpancing untuk tidak melakukan apa-apa.
Untuk itulah kita harus mampu menciptakan “perasaan mendesak” atau “sense of urgency”. Sayangnya, yang sering terjadi malah sebaliknya, banyak
hal penting yang kita abaikan sehingga menjadi tidak penting. Ini akan
membahayakan diri kita sendiri saat kita dihadapkan kenyataan bahwa hal
tersebut benar-benar penting dan mendesak.
Ingin
selalu produktif? Selalu ingat bahwa waktu itu terbatas, sadari bahwa waktu berjalan
dengan kecepatan konstan dan tidak ada berhentinya, ingatlah bahwa kita tidak
selalu bisa begini, selalu waspada akan
perubahan, sadari bahwa energi kita terbatas, dan ciptakan sense of urgency.
26 Jun 2012.
Wednesday, January 11, 2012
Energi Kangen
Kangen merupakan suatu hal yang sangat manusiawi. Kangen dengan anggota keluarga, kangen dengan suatu tempat tetentu, kangen dengan lagu tertentu, kangen dengan makanan tertentu, kangen dengan suasana tertentu. Kangen berkaitan dengan sesuatu yang pernah kita alami. Namun yang jelas kita hanya akan kangen dengan sesuatu yang pernah meninggalkan kesan positive. Kesan menyenangkan. Atau yang saat itu terasa tidak menyenangkan tetapi kemudian di lain waktu kita merasakan manisnya.
Apa yang terjadi saat kita kangen? Kita akan berusaha mendapatkan perasaan yang kita bayangkan. Ada energi tetentu yang mendorong pikiran dan langkah kita untuk mengobati rasa kangen ini. Jadi bisa dikatakan bahwa rasa kangen akan menimbulkan energi.
Energi merupakan sumber kekuatan kita untuk melakukan sesuatu. Saat kita kangen dengan makanan tetentu, akan ada energi yang muncul agar kita bisa mendapatkan makanan tesebut. Seseorang yang kangen luar biasa akan dengan sekuat tenaga mengobati rasa kangen tersebut. Dia bisa menjadi pemberani, menjadi pekerja keras, bertindak dengan sangat cepat demi mengobati kangen tersebut. Ada energi yang membawa jiwa dan raga kita mendapatkan apa yang kita mau.
Kalau kangen akan menimbulkan energi, berarti kalau kita bisa memanage kangen kita dengan baik maka kita akan mendapatkan energi untuk mendapatkan sesuatu? Iya, betul! Untuk itu maka kita perlu melengkapi diri kita untuk menciptakan kangen dan mengobati kangen itu. Caranya?
Kita bisa memulai dengan membuat "Daftar Senang", yaitu daftar tentang apa saja yang pernah membuat kita senang, bahagia, atau bangga. Kita penggil kembali "file kesenangan" yang telah tersimpan dalam otak kita. Misalnya, file tentang makanan khas di kota kita, file tentang lulus ujian, file tentang mendapatkan uang, file tentang kekasih kita.
Setelah file kita temukan dan kita buka satu-satu, nyalakan api kangen pada kebahagiaan atau kenikmatan yang pernah kita dapatkan. Api kangen tersebut apabila telah berkobar akan menimbulkan energi yang luar biasa untuk memenuhinya. Coba lihat apa yang terjadi, kita akan dituntun oleh energi kangen tersebut untuk mendapatkan apa yang kita mau.
Saya baru saja mempraktekkan hal ini. Saya coba buka file saya saat buku pertama saya terbit. Diterbitkan oleh Gramedia, penerbit paling besar di Indonesia. Saya bahagia sekali saat itu. Saya ingin mendapatkan kebahagiaan itu lagi. Saya harus menulis buku lagi kalau mau merasakan kebahagiaan tersebut. Apa yang terjadi? saya sekarang mendapatkan energi yang lua biasa untuk menulis buku lagi. Saya kangen kalau jari saya tidak mengetik kata demi kata untuk menjadi kalimat, menjadi bab, dan menjadi buku nantinya.
Luar biasa ternyata energi kangen. Saya kangen berkarya!
AP
Kalau kangen akan menimbulkan energi, berarti kalau kita bisa memanage kangen kita dengan baik maka kita akan mendapatkan energi untuk mendapatkan sesuatu? Iya, betul! Untuk itu maka kita perlu melengkapi diri kita untuk menciptakan kangen dan mengobati kangen itu. Caranya?
Kita bisa memulai dengan membuat "Daftar Senang", yaitu daftar tentang apa saja yang pernah membuat kita senang, bahagia, atau bangga. Kita penggil kembali "file kesenangan" yang telah tersimpan dalam otak kita. Misalnya, file tentang makanan khas di kota kita, file tentang lulus ujian, file tentang mendapatkan uang, file tentang kekasih kita.
Setelah file kita temukan dan kita buka satu-satu, nyalakan api kangen pada kebahagiaan atau kenikmatan yang pernah kita dapatkan. Api kangen tersebut apabila telah berkobar akan menimbulkan energi yang luar biasa untuk memenuhinya. Coba lihat apa yang terjadi, kita akan dituntun oleh energi kangen tersebut untuk mendapatkan apa yang kita mau.
Saya baru saja mempraktekkan hal ini. Saya coba buka file saya saat buku pertama saya terbit. Diterbitkan oleh Gramedia, penerbit paling besar di Indonesia. Saya bahagia sekali saat itu. Saya ingin mendapatkan kebahagiaan itu lagi. Saya harus menulis buku lagi kalau mau merasakan kebahagiaan tersebut. Apa yang terjadi? saya sekarang mendapatkan energi yang lua biasa untuk menulis buku lagi. Saya kangen kalau jari saya tidak mengetik kata demi kata untuk menjadi kalimat, menjadi bab, dan menjadi buku nantinya.
Luar biasa ternyata energi kangen. Saya kangen berkarya!
AP
Monday, January 2, 2012
Momentum Hidup - Tahun Baru
Pagi ini matahari terbit dari timur seperti biasanya. Udara pagi cukup dingin seperti biasanya juga. Kita semua bangun tidur juga dengan cara biasa. Tidak ada yang istimewa. Walaupun hampir segalanya seperti biasanya, namun ada sesuatu yang berbeda. Bahkan istimewa. Hari ini adalah tanggal 1 pada bulan 1 tahun yang berganti. Hari ini adalah tahun baru.
Mengapa tahun baru istimewa?
Pertama, kita tidak lagi menggunakan kalender tahun sebelumnya. Kalender tahun lalu sudah tidak berguna lagi. Kita memerlukan kalender baru. Ada sesuatu yang mau tidak mau kita selesaikan sampai disini, dan ada sesuatu yang mau tidak mau harus kita mulai. Ini hikmah dari pergantian kalender tersebut.
Kedua, sebagian besar organisasi di dunia ini menggunakan tahun kalender sebagai tahun pertanggunggjawaban. Tahun hitung-hitungan. Untung? atau rugi? Hitung-hitungan ini bukan hanya untuk organisasi saja, tetapi akan berdampak pada diri pribadi anggota organisasi tersebut. Apakah selama tahun ini kita berprestasi? Apakah kita mencapai target? Apakah kita layak mendapatkan bonus?
Ketiga, tanggal 1 Januari pada umumnya digunakan sebagai awal dari rencana kerja selama satu tahun. Kegiatan apa yang akan kita lakukan dalam satu tahun ini? Apa target kita? Berapa anggaran yang kita alokasikan? Ini berlaku untuk organisasi, tetapi berdampak kepada individu-individu yang ada dalam organisasi.
Singkatnya, tahun baru adalah batas memulai. Starting point. Kalau diibaratkan dalam kegiatan jalan sehat, tahun baru adalah garis start-nya. Ini adalah titik buka untuk tahun ini. Tapi apa artinya buat kita kalau kita anggap hari ini sebagai hari yang tidak berbeda dari hari yang lain? Ya bisa tidak berarti apa-apa kalau memang hari ini kita berlakukan sebagai hari yang tanpa arti. Tapi ingat, banyak hal yang dimulai pada tahun baru ini. Ada gelombang semangat yang besar pada tahun baru ini. Tahun baru adalah momentum bagi banyak orang.
Momentum adalah suatu titik keadaan yang memiliki tenaga besar. Suatu titik yang akan menghasilkan energi besar. Momentum hidup tidak hanya tahun baru. Bisa hari ulang tahun. Bisa hari raya keagamaan. Bisa hari kemerdekaan. Bahkan bisa juga hari lain yang memberikan energi kepada kita walaupun hari tersebut tidak berarti apa-apa buat orang lain. Momentum hidap sangat personal. Sangat pribadi. Dan itu bergantung pada diri kita sendiri. Kitalah pencipta momentum. Apakah ini akan kita jadikan momentum? atau biasa saja? Kitalah yang memutuskan. Namun demikian, apapun keputusan kita, tahun baru adalah suatu momentum. Setidaknya untuk kebanyakan orang di dunia ini.
Semoga tahun baru ini adalah momentum kita untuk menjadi manusia baru seperti yang kita idealkan. Semangat baru. Energi baru.
Selamat tahun baru 2012.
AP
Mengapa tahun baru istimewa?
Pertama, kita tidak lagi menggunakan kalender tahun sebelumnya. Kalender tahun lalu sudah tidak berguna lagi. Kita memerlukan kalender baru. Ada sesuatu yang mau tidak mau kita selesaikan sampai disini, dan ada sesuatu yang mau tidak mau harus kita mulai. Ini hikmah dari pergantian kalender tersebut.
Kedua, sebagian besar organisasi di dunia ini menggunakan tahun kalender sebagai tahun pertanggunggjawaban. Tahun hitung-hitungan. Untung? atau rugi? Hitung-hitungan ini bukan hanya untuk organisasi saja, tetapi akan berdampak pada diri pribadi anggota organisasi tersebut. Apakah selama tahun ini kita berprestasi? Apakah kita mencapai target? Apakah kita layak mendapatkan bonus?
Ketiga, tanggal 1 Januari pada umumnya digunakan sebagai awal dari rencana kerja selama satu tahun. Kegiatan apa yang akan kita lakukan dalam satu tahun ini? Apa target kita? Berapa anggaran yang kita alokasikan? Ini berlaku untuk organisasi, tetapi berdampak kepada individu-individu yang ada dalam organisasi.
Singkatnya, tahun baru adalah batas memulai. Starting point. Kalau diibaratkan dalam kegiatan jalan sehat, tahun baru adalah garis start-nya. Ini adalah titik buka untuk tahun ini. Tapi apa artinya buat kita kalau kita anggap hari ini sebagai hari yang tidak berbeda dari hari yang lain? Ya bisa tidak berarti apa-apa kalau memang hari ini kita berlakukan sebagai hari yang tanpa arti. Tapi ingat, banyak hal yang dimulai pada tahun baru ini. Ada gelombang semangat yang besar pada tahun baru ini. Tahun baru adalah momentum bagi banyak orang.
Momentum adalah suatu titik keadaan yang memiliki tenaga besar. Suatu titik yang akan menghasilkan energi besar. Momentum hidup tidak hanya tahun baru. Bisa hari ulang tahun. Bisa hari raya keagamaan. Bisa hari kemerdekaan. Bahkan bisa juga hari lain yang memberikan energi kepada kita walaupun hari tersebut tidak berarti apa-apa buat orang lain. Momentum hidap sangat personal. Sangat pribadi. Dan itu bergantung pada diri kita sendiri. Kitalah pencipta momentum. Apakah ini akan kita jadikan momentum? atau biasa saja? Kitalah yang memutuskan. Namun demikian, apapun keputusan kita, tahun baru adalah suatu momentum. Setidaknya untuk kebanyakan orang di dunia ini.
Semoga tahun baru ini adalah momentum kita untuk menjadi manusia baru seperti yang kita idealkan. Semangat baru. Energi baru.
Selamat tahun baru 2012.
AP
Thursday, December 8, 2011
Rasa Takut? Siapa Takut!
Terkadang kita dihinggapi rasa takut untuk memulai pekerjaan yang baik dan mulia. Takut gagal. Takut dicemooh. Takut disepelekan orang. Terkadang pula kita dibebani rasa takut saat akan mencapai tujuan tertentu. Untuk mendapatkan gelar pendidikan tertentu, untuk mengikuti ujian tertentu, untuk mendapatkan kejuaraan tertentu, atau untuk mendapatkan tingkat jabatan tertentu. Ketakutan ini biasanya masih berkisar di takut gagal, takut tidak tercapai, takut dicemooh orang dan sebagainya. Rasa takut ini menghinggapi anak muda maupun orang yang sudah mencapai usia dan pengalaman hidup tertentu.
Rasa takut ini normal. Manusiawi. Rasa takut apabila diolah dengan baik justru akan menjadi pendorong kita untuk maju. Rasa takut tidak untuk dihindari. Tapi harus dihadapi. Mengapa? Menghindari rasa takut akan berakibat kita tidak mau berbuat. Tidak mau bertindak. No action. Kita akan terjerumus kedalam keputusan lebih baik tidak memulai karena kalau tidak memulai atau tidak mengambil tindakan kita juga akan terbebas dari rasa takut.
Rasa takut harus dihadapi. Kita toh sudah tahu bahwa rasa takut itu manusiawi. Selama kita masih manusia kita akan tetap memiliki rasa takut. Rasa takut harus kita olah. Kita manage. Kalau perlu biarlah kita tetap dibebani rasa takut tetapi kita tetap berjalan menuju yang kita mau. Orang yang tetap bertindak meskipun dibebani rasa takut justru seorang pemberani yang luar biasa.
Bagaimana strategi untuk menghadapi rasa takut?
Pertama, jangan cengeng. Kita boleh menangis tetapi jangan cengeng! Bangkitkan nyali. Nyali berkelahi dengan kecengengan diri sendiri.
Kedua, keraslah pada diri sendiri. Ini adalah lanjutan dari langkah sebelumnya. Agar tidak cengeng kita harus berani dan rela untuk "keras pada diri sendiri". Keras pada diri sendiri bukanlah menyakiti diri sendiri. Justru menyelamatkan diri sendiri. Ingat pepatah " Kalau kita keras pada diri sendiri, maka dunia akan lembut kepada kita. Kalau kita lembut kepada diri sendiri, dunia akan keras pada diri kita".
Berikutnya? Percayalah bahwa setiap manusia memiliki hak untuk berhasil. Termasuk diri kita. Tetapi kan bisa saja gagal? Iya, setiap manusia bisa gagal. Tetapi setiap manusia bisa juga berhasil. Kalau kita berpihak pada kegagalan maka kita akan ditarik oleh "magnet kegagalan". Tetapi kalau kita berpihak kepada keberhasilan, maka kita akan ditarik oleh "magnet keberhasilan". Untuk itu maka lebih baik kita fokus kepada keberhasilan dari pada menyerahkan diri kita mentah-mentah untuk dimakan oleh kegagalan. Mungkin saja kita gagal, tetapi jangan biarkan semudah itu. Lakukan yang terbaik! Berjuanglah sekuat tenaga! Survive!
Tetaplah berjalan menuju yang kita mau. Maju tak gentar. Walau badai menghadang, tetapi dengan keteguhan hati kita maka badai tersebut tidak akan mampu memukul mundur kita. Teruslah berdoa. Tuhan adalah penentu terakhir. Untuk itu tetaplah berdoa. Bedoa agar kita diberi jalan, diberi kemudahan, diberi kekuatan, dan diberi keberhasilan!
Sukses untuk kita semua.
AP
Rasa takut ini normal. Manusiawi. Rasa takut apabila diolah dengan baik justru akan menjadi pendorong kita untuk maju. Rasa takut tidak untuk dihindari. Tapi harus dihadapi. Mengapa? Menghindari rasa takut akan berakibat kita tidak mau berbuat. Tidak mau bertindak. No action. Kita akan terjerumus kedalam keputusan lebih baik tidak memulai karena kalau tidak memulai atau tidak mengambil tindakan kita juga akan terbebas dari rasa takut.
Rasa takut harus dihadapi. Kita toh sudah tahu bahwa rasa takut itu manusiawi. Selama kita masih manusia kita akan tetap memiliki rasa takut. Rasa takut harus kita olah. Kita manage. Kalau perlu biarlah kita tetap dibebani rasa takut tetapi kita tetap berjalan menuju yang kita mau. Orang yang tetap bertindak meskipun dibebani rasa takut justru seorang pemberani yang luar biasa.
Bagaimana strategi untuk menghadapi rasa takut?
Pertama, jangan cengeng. Kita boleh menangis tetapi jangan cengeng! Bangkitkan nyali. Nyali berkelahi dengan kecengengan diri sendiri.
Kedua, keraslah pada diri sendiri. Ini adalah lanjutan dari langkah sebelumnya. Agar tidak cengeng kita harus berani dan rela untuk "keras pada diri sendiri". Keras pada diri sendiri bukanlah menyakiti diri sendiri. Justru menyelamatkan diri sendiri. Ingat pepatah " Kalau kita keras pada diri sendiri, maka dunia akan lembut kepada kita. Kalau kita lembut kepada diri sendiri, dunia akan keras pada diri kita".
Berikutnya? Percayalah bahwa setiap manusia memiliki hak untuk berhasil. Termasuk diri kita. Tetapi kan bisa saja gagal? Iya, setiap manusia bisa gagal. Tetapi setiap manusia bisa juga berhasil. Kalau kita berpihak pada kegagalan maka kita akan ditarik oleh "magnet kegagalan". Tetapi kalau kita berpihak kepada keberhasilan, maka kita akan ditarik oleh "magnet keberhasilan". Untuk itu maka lebih baik kita fokus kepada keberhasilan dari pada menyerahkan diri kita mentah-mentah untuk dimakan oleh kegagalan. Mungkin saja kita gagal, tetapi jangan biarkan semudah itu. Lakukan yang terbaik! Berjuanglah sekuat tenaga! Survive!
Tetaplah berjalan menuju yang kita mau. Maju tak gentar. Walau badai menghadang, tetapi dengan keteguhan hati kita maka badai tersebut tidak akan mampu memukul mundur kita. Teruslah berdoa. Tuhan adalah penentu terakhir. Untuk itu tetaplah berdoa. Bedoa agar kita diberi jalan, diberi kemudahan, diberi kekuatan, dan diberi keberhasilan!
Sukses untuk kita semua.
AP
Subscribe to:
Posts (Atom)